Selasa, 09 Juni 2015

TERAPI KELUARGA

Terapi keluarga sering dimulai dengan fokus pada satu anggota keluarga yang mempunyai masalah. Terutama, pasien yang diidentifikasi adalah remaja laki-laki yang sulit diatur oleh orang tuanya atau gadis remaja yang mempunyai masalah makan. Secepat mungkin, terapis akan berusaha untuk mengidentifikasi masalah keluarga atau komunikasi keluarga yang salah untuk mendorong semua anggota keluarga mengintrospeksi diri menyangkut masalah yang muncul. Tujuan umum terapi keluarga adalah meningkatkan komunikasi karena keluarga bermasalah sering percaya pada  pemahaman tentang arti penting.
Terapi keluarga mengajarkan penyelesaian tanpa paksaan, mengajarkan orang tua untuk menetapkan kedisiplinan pada anak-anaknya, mendorong tiap anggota keluarga untuk berkomunikasi secara jelas satu sama lain, mengajarkan anggota keluarga dalam prinsip perubahan perilaku, tidak menekankan kesalahan pada satu anggota akan tetapi membantu anggota keluarga apakah harapan terhadap anggota yang lain masuk akal.
Terapi keluarga adalah model terapi yang bertujuan mengubah pola interaksi keluarga sehingga bisa membenahi masalah-masalah dalam keluarga. Terapi keluarga muncul dari observasi bahwa masalah-masalah yang ada pada terapi individual mempunyai konsekwensi dan konteks social. Menurut teori awal dari psikopatologi, lingkungan keluarga dan interksi orang tua- anak adalah penyebab dari perilaku maladaptive.
Konsep Terapi Keluarga
A.            The double bind (ikatan ganda)
Dalam terapi keluarga, munculnya gangguan terjadi saat salah satu anggota membaik tetapi anggota keluarga lain menghalang-halangi agar keadaan tetap stabil.
B.            Family homeostasis (kestabikan keluarga)
Bagaimana keluarga menjaga kestabilannya ketika terancam.
Oleh karena itu, untuk meningkatkan fungsi anggota keluarga maka sistem dalam keluarga musti dipengaruhi dengan melibatkan seluruh anggota keluarga bukan individual/perorangan.
Terapi keluarga biasanya diberikan saat pasien sudah dewasa sebagai hasil dari keluarga yang patologis.Terapi individual mungkin tidak berguna karena kondisi keluarga yang tidak mendukung.
Kondisi keluarga itu bisa mengganggu kepribadian dan tingkah laku pasien. Namun jika memungkinkan, tritmen bagi penderita skizofrenia atau borderine yang masih awal dengan memanfaatkan seluruh anggota yang ada mungkin bisa berguna. Terapi dimulai dengan fokus pada masalah yang dialami pasien dalam keluarga dan kemudian anggota keluarga menyampaikan/memberikan kontribusi masing-masing. Terapis bertugas untuk mendorong seluruh anggota keluarga untuk mau terasa terlibat dalam masalah yang ada bersama-sama.
Terapis keluarga biasa dibutuhkan ketika :
a.         Krisis keluarga yang mempengaruhi seluruh anggota keluarga
b.        Ketidak harmonisan seksual atau perkawinan
c.         Konflik keluarga dalam hal norma atau keturunan

Unsur – Unsur Terapi Keluarga
Terapi keluarga didasarkan pada teori system yang terdiri dari 3 prinsip.
A.     Kausalitas sirkular,
Peristiwa berhubungan dan saling bergantung bukan ditentukan dalam sebab satu arah–efek perhubungan. Jadi, tidak ada anggota keluarga yang menjadi penyebab masalah lain, perilaku tiap anggota tergantung pada perbedaan tingkat antara satu dengan yang lainnya.
B.     Ekologi
Mengatakan bahwa sistem hanya dapat dimengerti  sebagai pola integrasi, tidak sebagai kumpulan dari bagian komponen. Dalam sistem keluarga, perubahan perilaku salah satu anggota akan mempengaruhi yang lain.
C.     Subjektivitas
Tidak ada pandangan yang objektif terhadap suatu masalah, setiap anggota keluarga mempunyai persepsi sendiri dari masalah keluarga.
Terapi keluarga tidak bisa digunakan bila tidak mungkin untuk mempertahankan atau memperbaiki hubungan kerja antar anggota kunci keluarga. Tanpa adanya kesadaran akan pentingnya menyelesaikan masalah pada setiap anggota inti keluarga, maka terapi keluarga sulit dilaksanakan. Bahkan meskipun seluruh anggota keluarga datang atau mau terlibat, namun beberapa system dalam keluarga akan sangat rentan untuk terlibat dalam terapi keluarga.
Tujuan Terapi Keluarga
A.     Menemukan bahwa masalah yang ada berhubungan dengan keluarga, kemudian dengan jalan apa dan bagaimana anggota keluarga tersebut ikut berpartisipasi. Ini dibutuhkan untuk menemukan siapa yang sebenarnya terlibat, karenanya perlu bergabung dalam sesi keluarga dalam terapi ini, juga memungkinkan apabila diikutsertakan tetangga, nenek serta kakek, atau keluarga dekat yang berpengaruh. Ada cara tercepat dalam terapi dimana terapis keluarga membuat usaha untuk mempengaruhi seluruh anggota keluarga dengan menunjukan cara dimana mereka berinteraksi dalam sesi keluarga itu. Kemudian, setiap anggota keluarga diminta menyampaikan harapan untuk perkembangan diri mereka sebaik mungkin, umumnya untuk menyampaikan komitmen pada terapis.
B.     Tujuan jangka panjang bergantung pada bagian terapis keluarga, apakah sebagian besar yang dilakukan untuk mengembangkan status mengenali pasien, klarifikasi pola komunikasi dalam keluarga. Dalam survey, responden diminta menyebut tujuan primer dan sekunder mereka, untuk seluruh keluarga, kedalam 8 kemungkinan tujuan. Tujuan yang disebut sebagai tujuan primer ‘‘mengembangkan komunikasi’’ untuk seluruh keluarga, ternyata lebih dipilih ‘‘mengembangkan otonomi dan individuasi’’. Sebagian memilih ‘‘pengembangan symptom individu’’ dan ‘‘mengembangkan kinerja individu’’. Memfasilitasi fungsi individu adalah tujuan utama dari terapi individual, tetapi para terapis keluarga melihat sebagai bukan yang utama dalam proses perubahan keluarga yang luas, khususnya sistem komunikasi dan sikap anggota keluarga yang menghormati anggota lainnya.
Pendekatan Terapi Keluarga
A.            Network terapi
B.            Multiple-impact terapi
C.            Multiple- family and multiple- couple group therapy

Teknik Terapi Keluarga
A.     Model teoritik digunakan oleh terapis untuk mengevaluasi, diagnosis, dan mengubah hubungan keluarga.
B.     Terapi memahami keluarga secara terpisah dan hak tersebut sebagai tanggungjawab dalam melakukan intervensi terapeutik
C.     Gaya, kepribadian, dan nilai yang dimiliki seorang terapis.
D.    Lapangan atau cakupan terapi keluarga adalah pergerakan menuju tahapan-tahapan, dimana keragaman paradigma teoritis dapat dikombinasikan pada persiapan model secara menyeluruh, evaluasi, diagnosa, dan intervensi keluarga.

Sumber
Becvar, Dorothy S. Becvar, Raphael J. 1976.Family Teraphy ( A systematic Intregation). Adivision of  Simon & Schester, Inc. Needham Height; Massachusetts.
Korchin, Sheldon J. 1976.Modern Clinical Psychology. Basic Books, Inc. Publishers: New York.
Nietzel, Michael. 1998. Introduction To Clinical Psychology. Simon & Schuster /  Aviacom Company. UpperSaddle River: New Jersey

Rabu, 29 April 2015

ANALISIS TRANSAKSIONAL

Analisis transaksional dikembangakan oleh Eric Berne, di dalam analisis transaksional  adalah upaya untuk merangsang rasa tanggung jawab pribadi atas tingkah lakunya sendiri, pemikiran logis, rasional, tujuan-tujan yang realistis, berkomunikasi dengan terbuka, wajar, dan pemahaman dalam berhubungan dengan orang lain.
Analisis Transaksional merupakan psikoterapi transaksional yang dapat digunakan dalam konseling individu, tetapi lebih cocok digunakan dalam konseling kelompok. Analisis Transaksional melibatkan suatu kontrak yang dibuat oleh klien, yang dengan jelas menyatakan tujuan-tujuan dan arah proses konseling. Analisis Transaksional berfokus pada keputusan-keputusan awal yang dibuat oleh klien dan menekankan kemampuan klien untuk membuat keputusan-keputusan baru. Analisis Transaktional menekankan aspek-aspek kognitif rasional, behavioral dan berorientasi pada peningkatan kesadaran sehingga klien akan mampu membuat keputusan-keputusan baru dan mengubah cara hidupnya.
     KONSEP DASAR ANALISIS TRANSAKSIONAL
1.      Struktur Kepribadian
Sumber dari tingkah laku bagaimana individu melihat suatu realitas sebagaimana mereka mengolah berbagai informasi serta bereaksi dengan dunia pada umumnya, dan biasa disebut Eric Berne sebagai Ego State (Status Ego). Istilah status ego digunakan untuk menyatakan suatu sistem perasaan dan kondisi pikiran serta berkaitan dengan pola-pola dan tingkah lakunya. Status ego pada diri individu itu terbentuk berdasarkan pengalaman-pengalaman yang diperoleh individu yang masih membekas pada dirinya sejak kecil hingga individu itu menjadi dewasa.
Menurut Eric Berne behwa status ego seseorang terdiri dari unsur-unsur sebagai berikut:
a.         Orang tua (Parent)
     Bila individu bertingkah laku seperti orang tua atau tokoh-tokoh terdahulu, maka ia dapatlah berada dalam status ego orang tua. Setiap orang mendapatkan berbagai bentuk pengalaman, sikap, serta pendapat dari orang tuanya, maka dari itu berdasarkan pengalaman, sikap serta pendapatnya yang diperoleh dari orang tuanya masing-masing, setiap orang akan memiliki atau berada pada status ego orang tua. Dapat dikatakan bahwa status ego orang tua dapat berbentuk langsung yaitu dengan menggunakan prototype, model, tipe, dari orang tua yang baik melalui verbal maupun non-verbal. Sedangkan dengan bentuk tidak langsung adalah merupakan petunjuk, aturan, norma, dan nilai-nilai yang pernah didenngar dari orang tua atau tokoh terdahulu pada masa kecil.
b.         Dewasa (Adult)
Status ego dewasa yaitu bentuk tindakan individu berdasarkan dasar pikiran yang logis, rasional, objektif, dan bertanggungjawab. Dewasa berfungsi untuk mengumpulkan berbagai informasi, memasukkan berbagai macam data ke dalam pemikiran, kemudian mempertimbangkan berbagai bentuk kemungkinan yang ada dan yang akan dilakukan.
c.          Anak (Child)
Status ego anak yaitu suatu tindakan dari sesorang dan didasarkan pada reaksi emosional yang spontan, reaktif, humor, kreatif, serta inisiatif. Bentuk status ego anak dapat berbentuk wajar apabila terlhat bahwa tingkah lakunya pada masa anak-anak, yaitu: adanya ketergantungan pada orang lain, spontan, bebas, agresif, tidak mau kompromi, impulsif, kreatif, ingin tahu, merasakan berbagai bentuk penemuan baru yang berbentuk status ego yang lain adalah pengaruh tertentu dari orang tuanya.
2.      Stroke
Dalam teorinya, Eric Berne mengemukakan suatu istilah yang disebut stroke, yang dapat diterjemahkan dengan “tanda perhatian”. Menurutnya stroke dapat dibedakan menjadi :
a.         Stroke Positif
            Stroke positif adalah merupakan segala bentuk perhatian yang secara langsung dapat memperkuat motivasi dan keinginan dalam kehidupannya yang diperoleh seseorang dalam awal kehidupannya. Contohnya belaian kasih sayang dar orang tua (pelik, cium).
b.         Stroke negatif
Stroke negatif adalah suatu bentuk stroke yang menunjukkan pandangan yang mengecewakan. Contohnya di tampar, di tendang, dan di naki-maki.
c.          Stroke bersyarat
Stroke bersyarat adalah sebagai suatu tanda perhatian yang diperoleh seseorang disebabkan ia telah melakukan sesuatu. Contohnya adik disuruh ke warung oleh kakakny adan setelah itu adik diberikan uang jajan oleh kakaknya.
d.         Stroke tidak bersyarat
Stroke tidak bersyarat dengan kata lain perhatian tidak bersyarat, adalah tanda perhatian yang diperoleh seseorang tanpa dikenakan persyaratan apapun. Contohnya kasih sayang orang tua kepada anaknya yang tulus tanpa imbalan apapun.
3.      Struktur Hunger
Eric Berne berpendapat bahwa kebutuhan seseorang untuk mengadakan serangkaian transaksi dengan individu lainnya adalah bersumber pada suatu stimulus atau sensation hunger, dan recognition hunger. Berdasarkan suatu penelitian, Eric Berne berpendapat bahwa  sensation hunger memiliki nilai yang sama dengan food hunger, dan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup seseorang.
Pada awalanya stimulus hunger ini akan bisa terpenuhi melalui sentuhan, belaian, oleh ibunya pada waktu kecil. Sejak itu individu belajar untuk menerima berbagai bentuk rangsangan lain, contohnya pelukan, ciuman, sentuhan dan nyanyian. Dalam hubungan ini terjadilah perubahan bentuk, yaitu dari bentuk stimulus hunger menjadi recognition hunger, dan selanjutnya berkembang kearah pembentukan suatu struktur yang lebih jelas, dan perubahan ini yang di sebut Eric Berne sebagai Struktur Hunger.
   TUJUAN ANALISIS TRANSAKSIONAL
Tujuan dasar dari Analisis Transaksional adalah membantu klien dalam membuat keputusan-keputusan baru yang menyangkut tingkah lakunya sekarang dan arah hidupnya. Sasarannya adalah mendorong klien agar menyadari bahwa kebebasan dirinya dalan memilih telah dibatasi oleh keputusan-keputusan dini mengenai posisi hidupnya dan oleh pilihan terhadap cara-cara hidup yang tidak jelas dan determinstik. Inti dari konseling adalah menggantikan gaya hidup yang ditandai oleh permainan yang menipu dan oleh alur-alur hidup yang mengalahkan diri, dengan gaya hidup otonom yang ditandai oleh kesadaran, spontanitas, dan keakraban.
  TEKNIK ANALISIS TRANSAKSIONAL
1.      Analisis Struktur (Structural Analysis)
            Analisis struktur sebagai alat yang dapat membantu klien agar menjadi sadar atas isi dan fungsi ego orang tua, dewasa, dan anak yang dimilikinya. Analisis struktural membantu klien dalam mengubah pola-pola yang dirasakan menghambat masa depan. Ia juga membantu dalam menemukan perwakilan ego yang mana menjadi landasan tingkah lakunya. Dengan hal tersebut maka, klien bisa memperhitungkan pilihan-pilihannya dengan benar.
2.      Analisis Transaksional
             Pemahaman ketiga status ego tersebut merupakan hal yang penting dalam rangka melangkah ke tahap yang selanjutnya , yaitu analisis transaksional. Analisis transaksional pada dasarnya merupakan suatu penjabaran atas suatu analisis yang dilakukan oleh orang-orang satu sama lain. Orang-orang yang melibatkan suatu transaksi di antara perwakilan-perwakilan ego mereka. Ketika pesan disampaikan, diharapkan ada suatu respon. Dalam hal ini yang terpenting bagi konselor adalah mampu untuk menaganalisis status ego yang ada, dan status ego manakah yang memberikan respon terhadap stimulus yang diberikan. Dalam menganalisis, tidak cukup hanya lewat pernyataan-pernyataannya saja, melainkan juga dengan secara non-verbal, misalnya dengan sikap tubuh, mimik muka, nada suara, dan tindak tanduknya dalam berinteraksi.
3.      Analisis Mainan
            Game menurut Eric Berne merupakan suatu rangkaian transaksi tersembunyi yang berulang menuju pada hasil psikologis yang nyatanya dapat diduga sebelumnya.  Suatu game memilki tiga unsur penting, yaitu :
a.         Transaksi yang tampaknya berjalan seperti biasa dapat terlihat seakan-akan transaksi berlangsung secara wajar.
b.         Dalam transakasi tampak ada suatu maksud yang tersembunyi.
c.          Adanya imbalan.
Peranan konselor dalam analisis game yaitu apabila klien benar-benar termotivasi untuk memperbaiki sikap, sifat, maupun kebisaaan yang dirasakan perlu untuk diperbaiki dan memerlukan bantuan dari konselor.
4.      Analisis Naskah
            Analisis Naskah merupakan langkah terakhir dari suatu tata laksana pendekatan konseling dengan berorientasi pada Analisis transaksional. Analisis naskah terjadi sejak masa bayi masih dalam masa asuhan orang tuanya. Di mana pada masa itu terjadi bentuk transaksi antara orang tua dengan anak-anaknya. Lama-lama dengan terjadinya transaksi antara anak dan orang tua terbentuklah suatu tujuan hidup atau rencana hidup yang dalam istilah analisis transaksional disebut script. Segi positif dari naskah merupakan naskah tersebut bisa diubah, karena naskah tersebut terjadi dengan adanya proses learned atau sesuatu yang dibiasakan dan bukan karena faktor pembawaan.


Sumber
Corey Gerald. 2005. Teori dan Praktek Konseling dan Pikotrapi . Bandung: Rafika Aditama
Sukardi, Dewa Ketut . 2002. Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta


LOGOTERAPI

Logoterapi di buat oleh viktor emil frankl. Ia menekankan pentingnya kemauan akan arti, ia berpendapat bahwa manusia harus dapat menemukan makna hidupnya sendiri dan kemudian setelah menemukan manusia harus dapat mencoba untuk memenuhinya. Bagi Frankl setiap kehidupan mempunyai makna, dan kehidupan itu adalah suatu tugas yang harus dijalani. Mencari makna dalam hidup inilah prinsip utama teori Frankl yang dinamakan Logoterapi. Logoterapi memiliki tiga konsep dasar, yakni kebebasan berkeinginan, keinginan akan makna, dan makna hidup.
Logoterapi memiliki wawasan mengenai manusia yang berlandaskan tiga pondasi utama filosofis yang satu dengan lainya erat hubunganya dan saling menunjang yaitu:
1.        Kebebasan berkehendak ( Freedom of Will )
          Dalam pandangan Logoterapi manusia adalah mahluk yang istimewa karena mempunyai kebebasan. Kebebasan disini bukanlah kebebasan yang harus ada, tetapi kebebasan yang bertanggungjawab. Kebebasan manusia bukanlah kebebasan dari (freedom from) kondisi-kondisi biologis, psikologis dan sosiokultural tetapi lebih kepada kebebasan untuk mengambil sikap atas kondisi-kondisi tersebut.
2.        Kehendak Hidup Bermakna ( The Will to Meaning )
Menurut Frankl, motivasi hidup manusia yang paling utama adalah mencari makna. Makna yang dimaksud berbeda dengan psikoanalisa yang memandang manusia adalah pencari kesenangan atau juga pandangan psikologi individual bahwa manusia adalah pencari kekuasaan. Menurut logoterapi kesenagan adalah efek dari pemenuhan makna, sedangkan kekuasaan merupakan prasyarat bagi pemenuhan makna. Mengenal makna itu sendiri menurut Frankl bersifat menarik dan menawari bukannya mendorong. Karena sifatnya menarik maka individu termotivasi untuk memenuhinya agar ia dapat menjadi individu yang bermakna dengan  berbagai kegiatan yang lengkap dengan makna.
3.        Makna Hidup ( The Meaning Of  Life )
Makna hidup merupakan sesuatu yang dianggap penting, dan di inginkan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang. Untuk tujuan praktis makna hidup dianggap identik dengan tujuan hidup. Makna hidup bisa  berbeda  antara satu individu dengan individu lain dan berbeda setiap hari, bahkan setiap jam maupun detik. Karena itu yang terpenting bukan makna hidup secara umum, tetapi makna khusus dari hidup seseorang pada suatu saat tertentu.
TUJUAN LOGOTERAPI
Di dalam masalah yang dihadapi klien dapat menemukan makna dari penderitaan dan kehidupan serta cinta. Dengan penemuan itu klien akan dapat membantu dirinya sehingga bebas dari masalah tersebut dan dapat hidup dengan keinginannya sendiri.
PERAN TERAPIS
1.        Menjaga hubungan yang akrab dan pemisahan ilmiah antara klien dan terapis
2.        Mengendalikan filsafat pribadi
3.        Terapis bukan guru atau pengkhotbah
4.        Memberi makna lagi pada kehidupan klien
5.        Memberi makna lagi pada penderitaan yang dihadapi klien
6.        Menekankan makna kerja
7.        Menekankan makna cinta
TEKNIK LOGOTERAPI
1.        intensi paradoksal
yaitu mampu menyelesaikan lingkaran neurotis yang disebabkan kecemasan anti sipatori dan hiper-intensi. Intensi paradoksal adalah keinginan terhadap sesuatu yang ditakuti. Contohnya ketakutan pada kecoa dan akan diterapi untuk menghilangkannya.
2.        de-refleksi.
Persoalan kejiwaan berawal dari perhatian yang terlalu terfokus pada diri sendiri. Dengan mengalihkan perhatian dari diri sendiri dan mengarahkannya pada orang lain, persoalan-persoalan itu akan hilang dengan sendirinya. Contohnya ketakutan akan menghadapi sidang skripsi, jika selalu dipikirkan sidang tersebut tidak akan berjalan lancar maka cara yang tepat mengalihkannya adalah dengan cara refreshing atau bermain dengan teman untuk melepaskan beban pikiran yang ada.


Sumber
Gerald Corey. (2007). Teori dan Praktek Konseling. Bandung: PT Refika Aditama.
Bastaman, H.D. 2007. Logoterapi “Psikologi untuk Menemukan Makna Hidup danMeraih           Hidup Bermakna”. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.



Selasa, 28 April 2015

PERSON CENTERED THERAPY

Terapi person centered adalah model terapi berpusat pribadi yang dikembangkan oleh psikolog humanistis Carl R. Rogers. Ia memiliki pandangan dasar tentang manusia, yaitu bahwa pada dasarnya manusia itu bersifat positif, makhluk yang optimis, penuh harapan, aktif, bertanggung jawab, memiliki potensi kreatif, bebas (tidak terikat oleh masa lalu), dan berorientasi ke masa yang akan datang dan selalu berusaha untuk melakukan self fullfillment (memenuhi kebutuhan dirinya sendiri untuk bisa beraktualisasi diri). Menurut Roger konsep inti terapi person centered adalah konsep tentang diri dan konsep menjadi diri atau pertumbuhan perwujudan diri. 
Konsep utama dalam person centered therapy adalah pada hakikatnya manusia mempunyai tujuan tertentu dan berkembang maju ke depan. Organisme bersifat konstruksif, realistic, progresif, dapat dipercayai dan secara kodrat alamiah memiliki potensi untuk berkembang. Aspek-aspek negatif yang terjadi pada seseorang seperti irasional, anti sosial, egoistis, kejam, distruktif, kurang matang dan regresif disebabkan karena kehidupannya tidak selaras dengan kodrat alamiahnya atau dengan kata lain konsep diri sebenarnya tidak selaras dengan konsep diri idealnya sendiri.
TEKNIK-TEKNIK PERSON CENTERED THERAPY
1.      Menerima
Terapis menerima klien dengan respek atau tertarik tanpa menilai atau menghakiminya baik itu secara positif atau negatif. klien dihargai dan diterima tanpa syarat. Dengan sikap ini terapis memberi kepercayaan sepenuhnya kepada kemampuan klien untuk meningkatkan pemahaman dirinya dan perubahan yang positif.
2.      Keselarasan (congruence)
Terapis dikatakan selaras dalam pengertian bahwa tidak ada kontradiksi antara apa yang dilakukannya dan apa yang dikatakannya.
3.      Pemahaman. 
Terapis mampu melihat klien dalam cara empatik yang akurat. Dia memiliki pemahaman konotatif dan juga kognitif.
4.      Mampu mengkomunikasikan sifat-sifat khas ini
Terapis mampu mengkomunikasikan penerimaan, keselarasan dan pemahaman kepada klien sedemikian rupa sehingga membuat perasaan-perasaan terapis jelas bagi klien.
5.      Hubungan yang membawa akibat
Suatu hubungan yang bersifat mendukung (supportive relationship), yang aman dan bebas dari ancaman akan muncul dari teknik-teknik Tersebut.  
CIRI-CIRI TERAPI
1.      Perhatian diarahkan pada pribadi bukan pada masalah. Tujuannya bukan untuk pemecahan masalah tapi membuat individu itu tumbuh untuk dapat mengatasi masalahnya sendiri baik masalah sekarang atau yang akan datang dengan cara yang tepat dan sesuai dengan apa yang diinginkan.
2.      Penekanan lebih kepada faktor emosi daripada intelektual karena perbuatan lebih banyak dipengaruhi emosi daripada pikiran dari dalam diri.
3.      Memberi tekanan yang lebih besar pada keadaan yang dialami sekarang bukan di masa lalu karena pola emosi sekarang sama saja dengan pola emosi yang lalu dan berdampak pada individu itu sendiri.
4.      Penekanan pada hubungan terapeutik. Pengalaman tumbuh dari hubungan terapeutik itu sendiri sehingga individu belajar memahami diri sendiri, membuat keputusan, dan bisa berhubungan dengan orang lain secara lebih dewasa dan lebih luas.
TUJUAN PERSON CENTERED THERAPY
1.      Keterbukaan pada pengalaman
Klien diharapkan dapat lebih terbuka dan lebih sadar dengan kenyataan pengalaman mereka. Hal ini juga berarti bahwa klien diharapkan dapat lebih terbuka terhadap pengetahuan lebih lanjut dan pertumbuhan mereka serta bisa menoleransi keberagaman makna dirinya sendiri.
2.      Kepercayaan pada diri sendiri
Tujuan terapi ini adalah membantu klien dalam membangun rasa kepercayaan diri yang lebih. Biasanya pada tahap-tahap permulaan terapi, kepercayaan klien terhadap diri sendiri dan keputusan-keputusannya sendiri sangat kecil. Mereka secara inti mencari saran dan jawaban-jawaban dari luar karena pada dasarnya mereka tidak mempercayai kemampuan-kemampuan dirinya untuk mengarahkan hidupnya sendiri. Namun dengan meningkatnya keterbukaan klien terhadap pengalaman-pengalamannya sendiri, kepercayaan kilen kepada dirinya sendiri pun mulai timbul dengan sendirinya.
3.      Tempat evaluasi internal
Tujuan ini berkaitan dengan kemampuan klien untuk instropeksi diri, yang berarti lebih banyak mencari jawaban-jawaban pada diri sendiri bagi masalah-masalah keberadaannya. Klien juga diminta untuk dapat menetapkan standar-standar tingkah laku dan melihat ke dalam dirinya sendiri dalam membuat keputusan-keputusan dan pilihan-pilihan bagi hidupnya sendiri.
4.      Kesediaan untuk menjadi satu proses.
Dalam hal ini terapi bertujuan untuk membuat klien sadar bahwa pertumbuhan adalah suatu proses yang berhubungan. Para klien dalam terapi berada dalam proses pengujian persepsi-persepsi dan kepercayaan-kepercayaannya serta membuka diri bagi pengalaman-pengalaman baru, bahkan beberapa revisi.

METODE TERAPI
1.      Terapis menghargai tanggung jawab klien terhadap tingkah lakunya sendiri yang diamati terapis.
2.      Terapis mengakui bahwa klien memiliki dorongan yang kuat dalam dirinya sendiri untuk mengarah pada kematangan dan independensi agar semakin mendalam.
3.      Menciptakan suasana yang hangat dan memberikan kebebasan yang penuh dimana klien dapat mengungkapkan atau juga tidak mengungkapkan apa saja yang ia inginkan dan ia rasakan.
4.      Membatasi tingkah laku (misalnya klien meminta agar terapis lebih lama untuk mendengarkan keluh kesahnya tapi terapis tidak boleh karena harus sesuai dengan jadwal yang telah di tetapkan sebelumnya).
5.      Terapis membatasi kegiatannya untuk menunjukkan pemahaman terhadap apa yang diungkapkan klien kepada terapis.
6.      Terapis tidak boleh bertanya, menyelidiki, menyalahkan, memberi penafsiran, menasihatkan, mengajarkan, membujuk, dan meyakinkan kembali klien.


Sumber
Corey, Gerald. 2009. Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditama.
Gunarsa, Singgih D. 1996. Konseling Dan Psikoterapi. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.

Semiun, Yustinus. (2006). Kesehatan Mental 1. Jakarta: Kanisius

TERAPI HUMANISTIK EKSISTENSIAL

Psikologi humanistik (Humanistic Psychology) di buat oleh sekelompok ahli psikologi yang pada awal tahun 1960-an bekerja sama di bawah kepemimpinan Abraham Maslow dalam mencari alternatif dari dua teori yang sangat berpengaruh atas pemikiran intelektual dalam psikologi. Kedua teori yang dimaksud adalah psikoanalisis dan behaviorisme. Maslow menyebut psikologi humanistik sebagai “kekuatan ketiga”.
Tokoh-tokoh dalam konseling eksistensial-humanistik yaitu, Abraham Maslow, Carl H. Rogers, Holo May, Bagental, Yourard dan Arbuckle. 
KONSEP UTAMA TERAPI HUMANISTIK EKSISTENSIAL
1.      Kesadaran diri
Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia dapat berpikir dan memutuskan. Kesadaran diri membedakan manusia dengan mahluk ciptaan Tuhan lainnya. Pada hakikatnya semakin tinggi kesadaran seseorang maka semakin dia hidup sebagai pribadi. Meningkatkan kesadaran berarti meningkatkan kesanggupan seseorang untuk mengalami hidup secara penuh sebagai manusia. Peningkatan kesadaran diri yang mencakup kesadaran atas alternatif-alternatif, motivasi-motivasi, faktor-faktor yang membentuk pribadi, dan atas tujuan-tujuan pribadi.
2.      Kebebasan, tanggung jawab dan kecemasan
Kesadaran atas kebebasan dan tangung jawab bisa menimbulkan kecemasan yang menjadi bagian dasar bagi manusia. Kecemasan adalah suatu karakteristik dasar manusia yang dimana merupakan sesuatu yang patologis, sebab dia bisa menjadi suatu tenaga motivasional yang kuat untuk pertumbuhan kepribadian.
3.      Penciptaan makna
Manusia itu unik, dalam arti lain bahwa selalu berusaha untuk menemukan tujuan hidup dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan. Manusia pada dasarnya selalu dalam pencarian makna dan identitas diri. Manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang bermakna, sebab manusia adalah mahluk yang rasional dan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.
TUJUAN TERAPI HUMANISTIK
a.       Menyajikan kondisi-kondisi untuk memaksimalkan kesadaran diri dan pertumbuhan hidup manusia.
b.       Menghapus penghambat-penghambat aktualisasi potensi pribadi pada diri seseorang.
c.       Membantu klien agar mampu menghadapi kecemasan sehubungan dengan tindakan memilih diri, dan menerima kenyataan bahwa dirinya lebih dari sekedar korban kekuatan-kekuatan deterministik di luar dirinya sendiri.
d.      Membantu klien menemukan dan menggunakan kebebasan memilih dan memperluas kesadaran dirinya.
e.       Membantu klien agar bebas dan bertanggung jawab atas arah kehidupannya sendiri.
FUNGSI DAN PERAN TERAPIS
Terapis di dalam terapi humanistik eksistensial memiliki tugas yang paling utama, yaitu berusaha agar dapat mengerti pasien sebagai sesuatu yang ada di dalam dunia. Dimana tekhnik yang digunakan selalu mendahului suatu pengertian yang mendalam terhadap pasiennya. Prosedur yang digunakan bisa bervariasi tidak hanya dari klien yang satu ke klien yang lain tapi juga dari satu fase ke fase terapi yang dijalani oleh klien yang sama.  
PROSEDUR DAN TEKHNIK TERAPI HUMANISTIK
1.      Kapasitas Untuk Sadar Akan Dirinya : Implikasi Konseling.
Meningkatkan kesadaran diri, yang mencakup kesadaran akan adanya alternatif, motivasi, faktor yang mempengaruhi seseorang dan tujuan hidup pribadi seseorang, merupakan sasaran dari semua konseling yaitu tugas terapis untuk menunjukkan kepada klien bahwa peningkatan kesadaran memerlukan imbalan.
2.      Kebebasan dan Tanggung Jawab : Implikasi Konseling.
Terapi eksistensial terus-menerus mengarahkan terfokus pada pertanggungjawaban klien atas situasi Mereka. Mereka tidak membiarkan klien menyalahkan orang lain, menyalahkan kekuatan dari luar. Apabila klien tidak mau mengakui dan menerima pertanggungjawaban bahwa sebenarnya mereka sendirilah yang menciptakan situasi yang ada, maka sedikit saja motivasi mereka untuk ikut terlibat dalam usaha perubahan pribadi. Terapis membantu klien dalam menemukan betapa mereka telah menghindari kebebasan dan membangkitkan semangat mereka untuk belajar mengambil resiko dengan menggunakan kebebasan yang ada. Kalau tidak berbuat seperti itu berarti klien tidak mampu berjalan dan secara neurotik menjadi ketergantungan pada terapis. Terapis perlu mengajarkan klien bahwa secara eksplisit mereka menerima fakta bahwa mereka memiliki pilihan, meskipun mereka mungkin selama hidupnya selalu berusaha untuk menghindari dari smeua pilihan itu sendiri.
3.      Usaha Untuk Mendapatkan Identitas dan Bisa Berhubungan Dengan Orang Lain : Implikasi Konseling.
Menantang klien untuk mau memulai meneliti cara dimana mereka telah kehilangan sentuhan identitas mereka, terutama dengan jalan membiarkan orang lain memolakan hidup bagi mereka. Proses terapi itu sendiri sering menakutkan bagi klien dimana pada saat itu mereka melihat kenyataan bahwa mereka telah menyerahkan kebebasan mereka kepada orang lain dan bahwa dalam hubungan terapi mereka terpaksa menerima kembali. Dengan jalan menolak untuk memberikan penyelesaian atau jawaban yang mudah maka terapis memaksa klien berkonfrontasi dengan realitas yang hanya mereka sendiri yang harus bisa menemukan jawaban mereka sendiri dan dalam diri mereka sendiri.
4.      Pencarian Makna : Implikasi Konseling.
Kondisi yang tumbuh dari perasaan ketidaksempurnaan atau kesadaran akan kenyataan bahwa orang ternyata tidak menjadi siapa dia seharusnya. Ini adalah kesadaran bahwa tindakan serta pilihan sesorang mengungkapkan kurang dari potensi sepenuhnya yang dimilikinya sebagai pribadi. dimana orang mengabaikan potensi-potensi tertentu yang dimiliki, maka tentu ada perasaan kesalahan eksistensial ini. Beban kesalahan ini tidak dipandang sebagai neurotik, juga bukan sebagai gejala yang memerlukan penyembuhan. Yang dilakukan oleh terapis eksistensial adalah menggalinya untk mengetahui apa yang bisa dipelajari klien tentang cara mereka menjalani kehidupan. Dan ini bisa digunakan untuk menantang kehadiran makna dan arah hidup.
5.      Kecemasan Sebagai Kondisi Dalam Hidup : Implikasi Konseling.
Kecemasan adalah materi dalam sesi terapi produktif. jika klien tidak mengalami kecemasan maka motivasi untuk mengalami perubahan menjadi rendah. maka terapis yang berorientasi eksistensial dapat menolong klien mengenali bahwa belajar bagaimana bertenggang rasa dengan keragu-raguan dan ketidakpastian dan bagaimana caranya hidup tanpa ditopang bisa merupakan tahap yang perlu dialami daam perjalanan dari hidup yang serba tergantung kea lam kehidupan sebagai manusia yang lebih autonom. Terapis dan klien dapat menggali kemungkinan yang ada, yaitu bahwa melepaskan diri dari pola yang tidak sehat dan membangun gaya hidup baru bisa disertai dari pola yang tidak sehat dan membangun gaya hidup baru bisa berkurang pada saat klien mengalami hal-hal yang ebih memuaskan dengan cara-cara hidup yang lebih baru.
6.      Kesadaran Akan Maut dan Ketiadaan : Implikasi Konseling.
Latihan dapat memobilisasikan klien untuk secara sungguh-sungguh memantapkan waktu yang masih mereka miliki, dan ini bisa mengubah mereka untuk mau menerima kemungkinan bahwa mereka bisa menerima keberadaannya sebagai mayat hidup sebagai pengganti kehidupan yang lebih bermakna.
TAHAP PELAKSANAAN TERAPI HUMANISTIK EKSISTENSIAL
1.      Tahap pendahuluan
Konselor mambantu klien dalam mengidentifikasi dan mengklarifikasikan asumsi mereka terhadap dunia. Klien diajak mendgartikan cara pandang agar eksistensi mereka diterima. Konselor mengajarkan mereka bercemin pada eksistensial mereka dan meneliti peran mereka dalam hal penciptaan masalah dalam kehidupan mereka.
2.      Tahap pertengahan
Klien di motivasi agar bersemangat untuk lebih dalam meneliti sumber dan otoritas dan sistem mereka. Semangat ini akan memberikan klien pemahaman baru dan restrukturisasi nilai dan sikap mereka untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan dianggap pantas oleh klien.
3.      Tahap akhir
Berfokus untuk bisa melaksanakan apa yang telah mereka pelajari tentang diri mereka. Klien di motivasi agar dapat mengaplikasikan nilai barunya dengan jalan yang lengkap. Klien biasanya akan menemukan kekuatan untuk menjalani eksistensi kehidupannya yang memiliki tujuan. Dalam perspektif eksistensial, teknik sendiri dipandang alat untuk membuat klien sadar akan pilihan mereka, serta bertanggungjawab atas penggunaan kebebasan pribadinya sendiri.


Sumber
Corey, Gerald. (1988). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT Eresco.
Abidin, Zaenal. 2007. Analisis Eksistensial. Jakarta: PT Raja Grafindo.
Corey, Gerald. 2007. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditama.
Semiun,Yustinus.(2006). Kesehatan mental 3. Kanisius: Yogyakarta

Feist, Jess dan Feist, Gregory. (2010). Teori Kepribadian. New York: Salemba Humanika